Senin, 26 Desember 2011

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
            Dinasti Bani Abbasiyah merupakan dinasti yang melanjutkan dari dinasti Bani Umayyah. Masa pemerintahan Bani Abbasiyyah dibagi menjadi lima periode. Pada periode pertama, Bani Abbasiyyah mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama. Namun setelah periode pertama berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai mengalami penurunan. Hingga pada periode kelima dinasti Bani Abbas mengalami kemunduran.
            Meskipun paparan ini terbatas namun diharapkan tidak akan mengurangi maksud dan tujuannya sebagai pembekalan wawsan historis terhadap setiap calon tenaga kependidikan.

B. Perumusan Masalah
            Adapun yang menjadi pokok permasalahan dari latar belakang diatas adalah sebab-sebab kemunduran pemerintahan pemerintahan Bani Abbasiyah.

C. Tujuan
            Adapun tujuannya ialah untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kemunduran Bani Abbasiyyah.






BAB II
PEMBAHASAN

A. Sebab-sebab Kemunduran Pemerintahan Bani Abbasiyah
            Berakhirnya kekuasaan dinasti Seljuk atas Baghdad atau khilafah Abbasiyah merupakan awal dari periode kelima. Pada periode kelima, khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan suatu dinasti tertentu, walaupun banyak sekali dinasti Islam berdiri. Ada diantaranya yang cukup besar, namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. Para khalifah Abbasiyah, sudah merdeka dan berkuasa kembali, tetapi hanya di Baghdad dan sekitarnya. Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit ini menunjukkan kelemahan politiknya. Pada masa inilah tentara Mongol dan Tatar menyerang Baghdad. Baghdad dapat direbut dan dihancurluluhkan tanpa perlawanan yang berarti. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini adalah awal babak baru dalam sejarah Islam, yang disebut masa pertengahan.
            Sebagaimana telihat dalam periodisasi khilafah Abbasiyah, masa kemunduran dimulai sejak periode kedua. Namun demikian, faktor-faktor penyebab kemunduran itu tidak dating secara tiba-tiba. Benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama, hanya karena khalifah pada periode ini sangat kuat, benih-benih itu tidak dapat berkembang. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila khalifah kuat, para menteri cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipil, tetapi jika khalifah lemah, mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan.
            Disamping kelemahan khalifah, banyak faktor lain yang menyebabkan khilafah Abbasiyah menjadi mundur, masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :


1. Persaingan Antar bangsa
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri, dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu.
Menurut Stryzewska, ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia dari pada orang-orang Arab.  
1.      Sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah.
2.      Orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya ‘ashabiyyah kesukuan.
Wilayah kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama sangat luas, meliputi berbagai bangsa yang berbeda, seperti Maroko, Mesir, Syria, Irak, Persia, Turki, dan India. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. Kecuali Islam, pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-macam tersebut dengan kuat. Akibatnya, disamping fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu’ubiyah.
            Fanatisme kebangsaan ini tampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa. Sementara itu, para khalifah menjalankan sistem perbudakan baru. Budak-budak bangsa Persia atau Turki dijadikan pegawai dan tentara. Mereka diberi nasab dinasti dan mendapat gaji. Oleh bani Abbas, mereka dianggap sebagai hamba. Sistem perbudakan ini telah mempertinggi pengaruh bangsa Persia dan Turki. Karena jumlah kekuatan mereka yang besar, mereka merasa bahwa negara adalah milik mereka, mereka mempunyai kekuasaan atas rakyat berdasarkan kekuasaan khalifah.
            Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyah berdiri. Akan tetapi, karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan, stabilitas politik dapat terjaga. Setelah Al-Mutawakkil, seorang khalifah yang lemah naik tahta, dominasi tentara Turki tak terbendung lagi. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih, bangsa Persia, pada periode ketiga, dan selanjutnya beralih kepada dinasti Seljuk pada periode keempat.
2. Kemerosotan Ekonomi
            Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran dibidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang poliik. Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Bait al-mal penuh dngan harta. Pertambahan dana yang besar diperoleh antara lain dari al-kharaj, semacam pajak hasil bumi.
            Setelah khilafah memasuki periode kemunduran, pendapatan Negara menurun, sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurutnya pendapatan Negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang menggangu perekonomian rakyat, diperingannya pajak, dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan, pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah, jenis pengeluaran semakin beragam, dan para pejabat melakukan korupsi.
3. Konflik Keagamaan
            Fanatisme keagamaan berkaitan dengan persoalan kebangsaan. Karena cita-cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai, kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme, Zoroasterisme, dan Mazdakisme. Munculnya gerakan yang dikenal dengan gerakan Ziniq ini menggoda rasa keimanan para khalifah. Al-Mansur berusaha keras memberantasnya. Al-Mahdi bahkan merasa perlu mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi oang-orang Zindiq dan melakukan mihnah dengan tujuan memberantas bidah. Akan tetapi, semua itu tidak menghentikan kegiatan mereka. Konflik antara kaum beriman dengan golongan Zindiq berlanjut mulai dari bentuk yang sangat sederhana seperti, polemic tentara ajaran, sampai kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah di kedua belah pihak. Gerakan Al-Afsyin dan Qaramithah adalah contoh konflik bersenjata itu.
            Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara muslim Zindiq atau Ahlussunnah dengan Syi’ah saja, tetapi juga antara aliran dalam Islam. Mu’tazilah yang cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bidah oleh golongan Salaf. Perselisihan antara golongan ini dipertajam oleh Al-Ma’mun, khalifah ketujuh dinasti Abbasiyah (847-833), aliran Mu’tazilah dibatalkan sebagai aliran Negara dan golongan Salaf kembali naik daun.
            Aliran Mu’tazilah bangkit kembali pada masa dinasti Buwaih. bangkit kembali  pada masa dinasti buwaih. Namun, pada dinasti Seljuk yang menganut aliran asy’ariyyah, penyingkiran golongan mu’tazilah mulai dilakukan secara sistematis. Dengan  dukungan penguasa aliran asy’ariyyah tumbuh subur dan Berjaya. Pikiran-pikiran al-Ghazali yang mendukung aliran ini menjadi ciri utama paham ahlussunah. Pemikiran-pemikran tersebut mempunyai efek yang tidak menguntungkan bagi pengemabangan kreativitas intelektual islam,konon sampai sekarang.
4. Ancaman dari luar
            Apa yang disebutkan diatas adalah faktor-faktor internal. Disamping itu, ada pula faktor-faktor eksternal yang menyebabkan khilafah abbasiyah lemah dan akhirnya hancur, pertama, perang salib yang berangsur beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban. Kedua, serangan tentara mongol ke wilayah kekuasaan islam. Sebagaimana telah disebutka, orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. Perang salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di daerah kekuasaan islam. Namun, di antara komunitas-komunitas Kristen timur, hanya Armenia dan maronit Libanon yang tertarik dengan perang salib dan melibatkan diri dalam tentara salib itu.
            Pengaruh salib juga terlihat juga dalam penyerbuan tentara Mongol. Disebutkan bahwa Hulagu Khan, Panglima tentara mongol sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang budha dan Kristen Nestorian. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orang-orang mongol yang anti islam itu dan diperkeras di kantong kantong ahl al-kitab. Tentara mongol, setelah menghancurleburkan pusat-pusat islam, ikuti memperbaiki Yerussalem.




















BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
            Kekuasaan Bani Abbasiyah berakhir pada awal periode kelima. Berikut ini merupakan sebab-sebab kemunduran pemerintahan Bani Abbasiyah yaitu sebagai berikut :
1.      Persaingan antar bangsa
2.      Kemerosotan ekonomi
3.      Konflik keagamaan
4.      Ancaman dari luar

B. Saran
            Berdasarkan uraian diatas penulis dapat memberikan saran-saran sebagai berikut :
1.      Bagi para pendidik dan tenaga kependidikan hendaknya lebih memperhatikan mengenai pentingnya sejarah peradaban Islam.
2.      Bagi para peneliti lain dan para pembaca, hendaknya dapat menyusun karya tulis yang berhubungan dengan sejarah peradaban Islam.


| Free Bussines? |

read more..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar